Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Yang Perlu Diketahui tentang Gangguan Spektrum Autisme

Yang Perlu Diketahui tentang Gangguan Spektrum Autisme

  • August 7, 2019
  • 0 Likes
  • 28 Views
  • 0 Comments

Apa yang perlu anda ketahui tentang Gangguan Spektrum Autisme?
Oleh: Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K)

Pendahuluan
Gangguan Spektrum Autisme (GSA) atau disebut juga sebagai Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan suatu gangguan perkembangan pada anak yang berat dan kompleks. Istilah ‘spektrum’ digunakan untuk menggambarkan kondisi GSA yang mempunyai rentang gejala, hendaya dan disabilitas yang luas dan bervariasi.

Sebagai contoh, ada anak dengan GSA yang memiliki gejala yang ringan dan sebagian lagi menpunyai gejala yang lebih berat dan disertai hendaya dalam fungsi sehari-hari yang luas sehingga perlu penanganan yang lebih spesifik. Kondisi tersebut membuat perencanaan tatalaksana bagi anak dengan GSA menjadi sangat individual dan berbeda antara satu anak dengan GSA dan anak lainnya.

Angka kejadian kasus anak dengan GSA Indonesia masih belum diketahui dengan pasti hingga saat ini, namun para pakar yang bekerja dalam bidang kesehatan anak melaporkan terjadinya peningkatan kasus tersebut dalam satu atau dua dekade terakhir ini. Peran orangtua dalam membawa anaknya untuk berkonsultasi ikut berperan terhadap besaran angka kejadian tersebut.

Saat ini para orangtua terutama di Jakarta dan daerah sekitarnya tampaknya mempunyai pemahaman yang lebih baik terhadap Gangguan Spektrum Autisme sehingga mereka sudah membawa anaknya untuk berkonsultasi jika perkembangan anak tersebut tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak seusianya, sehingga kasus GSA dapat terdeteksi lebih awal.

Center for Disease Control and Prevention (CDC’s) – Autism and Developmental Disabilities Monitoring Network Surveillance di Amerika Serikat pada tahun 2010 melaporkan bahwa angka kejadian GSA sekitar 21,9 anak per 1000 anak berusia 8 tahun. Dalam laporan tersebut mereka menyatakan bahwa perkiraan angka kejadian yang didapat tergantung juga pada jenis kelamin anak.

Anak laki-laki dilaporkan lebih sering mengalami GSA jika dibandingkan dengan anak perempuan (satu  dari 48 anak laki-laki dan 1 dari 189 anak perempuan mengalami GSA). Selain itu, mereka juga menginformasikan bahwa 31% anak dengan GSA mengalami disabilitas intelektual (IQ<70) dan 23% dengan borderline IQ, sisanya mempunyai rentang intelektual yang normal atau di atas normal.

Gejala dan Tanda
Saat ini penentuan ada tidaknya GSA dilakukan dengan melakukan wawancara psikiatrik orangtua dan observasi anak. Wawancara dilakukan dengan berpedoman pada kriteria diagnostik yang ada dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders V (DSM V, 2013) atau Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ III, 1993).

Secara singkat, gejala dan tanda dari GSA berdasarkan DSM V dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. Defisit yang menetap dari komunikasi sosial dan interaksi sosial yang meliputi berbagai konteks kehidupan anak dan sudah timbul dalam diawal perkembangan anak namun seringkali manifestasi gejala baru tampak jelas bagi orangtua saat perkembangan anak berjalan lebih lambat dibandingkan dengan anak seusianya. Defisit tersebut dapat berupa kesulitan sampai dengan kegagalan dalam menjalin komunikasi verbal timbal balik; berkurangnya sampai dengan kehilangan keinginan untuk berbagi ketertarikan, emosi, atau afeksi; kegagalan untuk memulai atau berespons dalam menjalin interaksi sosial; abnormalitas dalam kontak mata dan bahasa tubuh atau defisit dalam pemahaman dan penggunaan bahasa tubuh dalam berkomunikasi; kehilangan secara total ekspresi wajah dan komunikasi non-verbal; kesulitan dalam menyesuaikan perilaku dalam berbagai konteks sosial.
  2. Adanya pola perilaku, minat atau aktivitas yang terbatas dan berulang, seperti pola perilaku stereotipik; echolalia (mengulang atau imitasi kata atau pembicaraan orang lain); perilaku ritualistik; minat yang terbatas pada objek atau benda tertentu; preokupasi dengan objek atau benda tertentu; hiper- atau hiposensitivitas terhadap rangsang indera tertentu; minat yang tidak wajar terhadap benda atau kegiatan tertentu, misalnya terlalu fokus terhadap satu jenis mainan tertentu sehingga tidak bisa melepaskan diri dari benda tersebut.
  3. Gejala-gejala pada umumnya sudah mulai timbul dalam periode awal. perkembangan (seringkali gejala baru dikenali orangtua pada saat anak berusia sekitar 2 tahun atau saat perkembangan yang diharapkan tidak sesuai dengan anak seusianya).
  4. Gejala di atas menimbulkan hendaya yang bermakna secara klinis dalam aspek sosial, pekerjaan atau fungsi sehari-hari anak saat ini.

Deteksi Dini

Anak dengan GSA seringkali sudah menampilkan berbagai gejala dini seperti bayi tidak menunjukkan adanya senyum sosial pada saat diajak bermain dan kontak mata yang minim saat bayi berusia 2 – 3 bulan, atau ketidakmampuan untuk melakukan ikatan emosi timbal balik dengan ibu atau pengasuhnya.

Beberapa orangtua juga mengeluhkan bahwa anak mereka belum mampu berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal pada saat mereka berusia 2 tahun ke atas dan anak di usia tersebut seharusnya sudah mampu menguasai keterampilan tersebut. Disamping itu, mereka juga menunjukkan adanya perilaku terbatas dan berulang sehingga mengganggu fungsi dasar anak sehari-hari.

Deteksi dini dapat dilakukan melalui kuesioner Checklist for Autism in Toddlers (CHAT). Kuesioner ini dapat digunakan untuk deteksi dini anak dengan GSA yang berusia 18 – 36 bulan, dilakukan dengan observasi dan mengajukan pertanyaan kepada orangtua yang menemukan adanya satu atau lebih gejala, seperti; (1) keterlambatan bicara; (2) gangguan komunikasi/ interaksi sosial; (3) perilaku yang berulang ulang pada anak mereka.

CHAT terdiri dari 2 bagian, yaitu:

A. Sembilan buah pertanyaan yang diajukan pada orangtua/pengasuh dengan jawaban Ya atau Tidak:

  1. Senang di ayun-ayun, diguncang-guncang
  2. Tertarik memperhatikan anak lain
  3. Suka memanjat tangga
  4. Suka main ciluk-ba, petak umpet
  5. Bermain pura-pura membuat minuman
  6. Meminta dengan menunjuk
  7. Menunjuk benda
  8. Bermain dengan benda kecil
  9. Memberikan benda utk menunjukkan sesuatu

B. Lima pengamatan perilaku anak, yang dijawab dengan jawaban Ya atau Tidak

  1. Anak memandang mata pemeriksa
  2. Anak melihat ke benda yang ditunjuk
  3. Bermain pura-pura membuat minum
  4. Menunjuk benda yang disebut
  5. Menumpuk kubus

Interpretasi (penafsiran) CHAT

  • Risiko tinggi menderita Gangguan Spektrum Autisme jika menjawab tidak pada butir A5, A7, B2-4
  • Risiko rendah menderita Gangguan Spektrum Autisme jika menjawab tidak pada butir A7, B4
  • Kemungkinan adanya gangguan perkembangan lain jika menjawab  tidak pada 3 butir atau lebih dari butir A1-4, A6, A8-9, B1, B5

Dengan menggunakan CHAT maka deteksi GSA dapat diharapkan lebih dini dan intervensi juga dapat dilakukan lebih awal sehingga diharapkan hasil akhir tatalaksana menjadi lebih baik.

Tatalaksana
Oleh karena aspek keterlambatan perkembangan pada GSA meliputi berbagai aspek maka tatalaksana bersifat multidisiplin yang melibatkan berbagai profesional di bidang kesehatan seperti psikiater anak, dokter anak, dokter rehabilitasi anak, psikolog, paedagog, terapis okupasi, terapis wicara, dsb tergantung dari hasil peni-laian kebutuhan anak.

Selain itu anak dengan GSA juga seringkali disertai dengan berbagai emosi dan peri-laku maladaptif yang mengganggu proses tatalaksana seperti perilaku hiperaktif, agresif, destruktif, melukai diri sendiri, labilitas emosi serta adanya tantrum yang berat. Semua gejala emosi dan perilaku maladaptif tersebut dapat dikelompokan sebagai gejala iritabilitas yang seringkali menyertai GSA.

Masalah tersebut tidak hanya menyulitkan namun juga menjadi tantangan besar bagi orangtua dan juga guru dan terapis yang mengajar anak tersebut; selain itu, gejala iritabilitas juga seringkali memperburuk interaksi sosial dan kemampuan komunikasi yang ada. Studi terakhir menunjukkan bahwa 20% anak dengan GSA juga disertai adanya gejala iritabilitas dengan derajat sedang sampai dengan berat, walaupun pene-litian mengenai hal ini masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut.

Walaupun pemberian terapi perilaku mampu meredakan berbagai jenis perilaku dan emosi yang maladaptif, namun hasil akhir dari pendekatan terapi ini masih bersifat individual dan belum banyak penelitian berbasis bukti mengenai hal ini.

Selain itu, pemberian obat juga dapat menjadi salah satu alternatif pendekatan tatalaksana anak dengan Gangguan Spektrum Autisme yang disertai dengan gejala iritabilitas sehingga mereka diharapkan dapat berfungsi lebih optimal dalam menjalankan proses terapi baik di rumah, di sekolah, maupun ditempat di tempat lainnya.

Obat yang digunakan umumnya berupa obat yang khusus dikembangkan  untuk mengatasi gejala iritabilitas di atas. Sampai saat ini masih ada beberapa jenis obat yang belum direkomendasikan sepenuhnya untuk digunakan pada anak, tetapi berdasarkan pengalaman klinis empiris obat tersebut memang memberi-kan hasil yang baik untuk mengurangi masalah perilaku tersebut.

Penelitian sudah dilakukan untuk menunjukkan efektivitas dari salah satu obat golongan antipsikotik atipikal yang disebut Aripiprazole untuk mengatasi gejala iritabilitas pada anak dengan GSA. Penelitian tersebut melibatkan 164 anak dengan gangguan spektrum autisme dengan rentang usia antara 6 – 17 tahun yang diberikan Aripiprazole dengan dosis bervariasi antara 5 – 15 mg/hari selama 8 minggu.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan perilaku iritabilitas, stereotipik, hiperaktivtas, dan perilaku penarikan diri yang dilaporkan berbeda bermakna jika dibandingkan dengan kelompok anak yang tidak mendapatkan obat tersebut.

Perilaku inatensi dan perilaku hiperaktif pada anak dengan gangguan spektrum autisme juga dapat diatasi dengan pemberian Metilfenidat Hidroklorida yang merupakan obat golongan psikostimulan yang umumnya digunakan pada anak dengan gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas. Obat golongan ini dikatakan juga dapat mengurangi gejala impulsif pada beberapa anak dengan spektrum autisme yang disertai dengan perilaku tersebut terutama pada anak dengan gangguan spektrum autisme yang mempunyai kemampuan intelektual yang lebih baik (higher functioning autism).

Anak dengan gangguan spektrum autisme yang disertai dengan gejala iritabilitas yang sama mungkin memberikan respons yang berbeda dengan pemberian obat yang sama, kondisi ini terjadi oleh karena anak-anak tersebut masih dalam fase perkembangan serta mempunyai ekspresi genetik yang berbeda.

Oleh karena itu orangtua harus berkerja sama dengan erat dengan dokter yang menangani anak tersebut, serta perlu dilakukan monitoring secara ketat. Dengan demikian maka setiap perubahan yang menjurus ke arah perburukan akan terdeteksi sedini mungkin sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.

Sampai saat ini data yang menunjukkan pemakaian obat psikotropik (antipsikotik atipikal, antidepresan golongan SSRI, dan psikostimulan) pada anak dengan gangguan spektrum autisme masih sangat sedikit, namun dari data yang ada menunjukkan bahwa pemakaian obat-obat golongan tersebut meningkat dari tahun ke tahun oleh karena keuntungan yang didapat berupa perbaikan gejala iritabilitas dengan response rate sebesar 48 – 56%.

Kesimpulan
Gangguan Spektrum Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan yang perlu mendapat perhatian yang serius, bukan hanya karena gangguan fungsi adaptif anak namun juga dapat mempengaruhi kehidupan keluarga secara keseluruhan.

Diagnosis dilakukan dengan melakukan wawancara psikiatrik pada orangtua dan juga melakukan observasi pada anak. Kondisi ini perlu dideteksi sedini mungkin agar dapat diberikan intervensi yang lebih awal sehingga diharapkan anak dapat terus berkembang dengan optimal. Diagnosis mengacu pada kriteria diagnosis yang terdapat dalam DSM V atau bisa juga mengacu pada Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa III.

Disamping itu, anak dengan GSA juga seringkali disertai gejala iritabilitas seperti perilaku agresif, destruktif serta suasana perasaan yang iritabel dan labil, sehingga lebih memperburuk kondisi yang ada. Tatalaksana dilakukan secara multidisiplin yang melibatkan berbagai moda pendekatan seperti terapi perilaku, sensori integrasi atau terapi wicara; dan obat golongan antispikotik atipikal seperti Aripiprazole dapat diberikan untuk mengurangi gejala iritabilitas tersebut sehingga anak dengan GSA dapat mengikuti kegiatan yang ada dengan lebih optimal.

Sumber: Otsuka.co.id

Leave Your Comment