Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Rumah Autis untuk Anak Dhuafa

Rumah Autis untuk Anak Dhuafa

  • June 8, 2019
  • 0 Likes
  • 86 Views
  • 0 Comments

Banyak anak berkebutuhan khusus dari keluarga kurang mampu yang tak tertangani dengan baik. Tergerak melihat kondisi itu, beberapa orang mendirikan Rumah Autis gratis bagi kaum duafa. Setelah delapan tahun, kini telah berdiri tujuh cabang.

“Neng, anaknya mengidap autis” Haduh, Neng, masih muda udah dapat ujian begini. Ini mah penyakit orang kaya,” tutur seorang perawat kepada Utini.

Hal tersebut didengar Utini setelah memeriksakan putranya yang berusia dua tahun di sebuah klinik umum di kawasan Jakarta Utara. Utini, yang hanya seorang pedagang baju keliling, langsung terduduk lemas. Dia tidak menyangka bahwa putra sulungnya, Eka Nurhidayat, menderita penyakit “orang kaya”.

Utini pun paham bahwa dirinya dan sang suami, Yono, yang hanya tukang ojek, tidak bakal mampu menangani penyakit tersebut. Mereka berdua pun berjuang keras mengasuh Eka di rumah kontrakan yang hanya berukuran 2,5 m x 8 m.

Karena pengetahuan tentang autisme yang minim, keduanya mudah terpengaruh oleh perkataan para tetangga dan kerabat. Utini menuturkan bahwa dirinya sempat mendapat masukan dari orang tua di kampungnya. Mereka mengatakan bahwa Eka kesurupan.

“Katanya, tatapannya kosong. Akhirnya, saya coba beberapa kali ke berbagai pengobatan alternatif. Mulai tabib di Bandung, pergi ke dukun, sampai melakukan ritual-ritual babi ngepet. Untuk ritual itu, kami disuruh nyalain lilin di kasur, nyiapin air kembang sama makanan tujuh rupa. Bukannya Eka sembuh, kasur saya malah terbakar karena saya tinggal,” ungkap Utini.

Akhirnya, Utini dan Yono disarankan mendaftarkan Eka ke sebuah tempat terapi di bilangan Jakarta Pusat. Biayanya tidak murah untuk ukuran mereka, yakni Rp 1,5 juta. Keduanya pun kelimpungan mencari biaya. Namun, dana sebesar itu tidak bertahan lama. Dalam beberapa bulan, uang tersebut habis untuk membayar biaya terapi. Mereka tidak sanggup lagi melanjutkannya.

Untung, pada akhir 2008 Utini mendapat informasi dari rekannya sesama penjual baju keliling bahwa ada tempat terapi autis gratis bagi kalangan duafa. Tanpa pikir panjang, Utini mendatangi Rumah Autis Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah Cabang Tanjung Priok. Akhirnya, Utini dan Yono bisa bernapas lega. “Eka diterima di sana dan bisa mendapat terapi tanpa dipungut biaya sedikit pun,” ujar Utini.

Kisah Utini dan Yono hanyalah salah satu di antara ratusan kisah para orang tua yang anaknya ditampung di Rumah Autis itu. Rumah Autis memang merupakan lembaga nirlaba di bawah naungan Yayasan Cahaya Keluarga Fitrah (Cagar). Lembaga yang berdiri sejak 9 Desember 2004 tersebut memang mengkhususkan diri menangani dan membantu terapi anak-anak autis kaum duafa.

“Kami menyadari bahwa masih banyak anak autis dari kalangan miskin yang belum tertangani dengan baik. Karena itu, lewat Rumah Autis, kami berharap bisa membantu mereka,” ujar Direktur Rumah Autis M. Nelwansyah di Rumah Autis Jatiasih, Bekasi.

Nelwan menguraikan, Rumah Autis bisa diwujudkan berkat peran empat pendirinya. Mereka adalah sepasang suami istri Deka Kurniawan dan Laeli Ulfiati serta dua terapis anak autis Henny Ma”rifah dan Ismunawaroh. “Empat orang itu yang sangat berperan dalam berdirinya Rumah Autis. Saya sendiri baru bergabung pada 2008 dan langsung diminta menangani manajemennya,” ujar Nelwan.

Ismunawaroh, salah seorang pendiri Rumah Autis, mencoba merendah. Dia menuturkan bahwa peran Nelwan juga tidak kalah penting sehingga Rumah Autis menjadi besar dan memiliki tujuh cabang seperti sekarang. Isti, sapaan Ismunawaroh, mengisahkan, sebelum terpikir olehnya untuk mendirikan Rumah Autis, dirinya dan Henny adalah terapis yang bekerja di sebuah klinik anak autis.

Di tempat tersebut, mereka kerap menyaksikan para orang tua miskin yang tidak mengikuti terapi karena tidak adanya biaya. “Kami lihatnya kasihan. Mereka ditolak karena nggak mampu. Padahal, ada orang tua yang sampai jual segalanya demi biaya terapi anaknya. Pekerjaan mereka cuma satpam atau buruh pabrik,” ujar Isti.

Dari situ, Isti dan Henny punya ide untuk membuka tempat terapi bagi kaum duafa. Mereka pun menyampaikan gagasan tersebut kepada kawan mereka, Deka Kurniawan dan istrinya, Laeli Ulfiati. Gayung pun bersambut. Pasangan suami istri itu sangat setuju. Mereka berempat pun bahu-membahu mendirikan Rumah Autis.

Sebagai langkah awal, mereka membutuhkan tempat. Namun, mereka tidak juga mendapat tempat yang sesuai dengan kantong. “Karena nggak dapat tempat, akhirnya kami memakai rumah Pak Deka di Jatimakmur. Jadi, rumahnya disekat-sekat untuk ruang kelas,” kenang Isti.

Awalnya, Isti dan Henny yang sudah memiliki gaji lumayan di klinik autis tersebut berpikir ulang untuk keluar dari pekerjaan sebelumnya. Sebab, dua-duanya adalah perantau. Namun, setelah memantapkan hati, mereka mengundurkan diri. Karena tidak lagi punya pemasukan, mereka tinggal di rumah Deka.

“Kami berdua tinggal di kamar yang kecil. Sampai tidur saja tidak bisa selonjoran. Tidurnya juga di karpet,” ujar perempuan berjilbab tersebut.

Kali pertama dibuka, Rumah Autis mendapat tiga murid yang orang tuanya berprofesi sebagai buruh pabrik dan satpam. Karena tenaga di tempat itu masih serbaminim, Henny dan Isti memiliki banyak peran di Rumah Autis.

Selain sebagai terapis, mereka nyambi sebagai tenaga cleaning service. “Ya yang bersih-bersih kami juga karena semuanya serba terbatas. Istri Pak Deka ngurusin bagian administrasi,” ujarnya.

Mereka pun harus rela hidup serba kekurangan. Karena Rumah Autis bersifat nirlaba, mereka tidak mendapat gaji. Yang mereka dapat hanya uang transpor. Untung, mereka masih memperoleh jatah makan siang dari Deka. Untuk menambah pemasukan, Henny dan Isti menjadi terapis privat. “Jadi, orang tua yang dulu sudah cocok sama kami waktu di klinik minta privat. Meski nggak banyak, itu bisa membantu, setidaknya sampai dua tahun,” ujar Henny.

Di tengah keterbatasan tersebut, mereka berempat terus berupaya menyosialisasikan Rumah Autis kepada masyarakat. Usaha mereka terbantu berkat publikasi di salah satu stasiun televisi swasta. Sejak itu, makin banyak orang tua anak autis yang mendatangi tempat mereka.

Tidak hanya itu, beberapa donatur juga bermunculan meski belum banyak. Karena mulai kewalahan, Henny dan Isti mengajak teman-teman mereka sesama terapis untuk bergabung. Namun, sejak awal, keduanya menekankan bahwa mereka tidak digaji, hanya mendapat makan dan uang transpor.

“Dan ternyata susah. Kebanyakan masih mikir-mikir. Ada juga yang mau, tapi akhirnya keluar, ya karena masalah uang. Yang paling sedih, ketika kami sudah rutin mengadakan pelatihan setiap minggu untuk para terapis, eh, mereka keluar,” jelas Isti.

Diakui Isti dan Henny, profesi yang mereka jalani itu memang memiliki tingkat stres tinggi. Hampir setiap hari mereka menghadapi anak-anak autis yang hiperaktif. Bahkan, Isti sudah terbiasa ditendang, dicakar, digigit, hingga dibanting anak asuhannya. Tidak jarang pula perempuan 32 tahun itu harus berkali-kali ganti baju karena anak asuhannya mulai tantrum.

“Ada anak asuhan saya yang kalau tantrum sukanya memanipulasi dengan air kencing dan kotorannya. Karena itu, saya paham kalau banyak terapis di sini yang tidak bertahan. Mereka harus menghadapi anak-anak seperti ini, tapi uangnya tidak banyak,” jelasnya.

Tidak hanya itu, karena belum mampu menyewa bangunan sendiri, kelas-kelas yang hanya disekat dengan tripleks itu sering jebol gara-gara ditendang anak-anak autis yang tengah mengikuti terapi. Media pembelajaran pun masih berebut. Sebab, jumlahnya sangat terbatas.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Rumah Autis akhirnya berkembang. Semakin gencar sosialisasi yang dilakukan, semakin banyak pula orang peduli yang berdatangan. Sejumlah donatur perorangan dan lembaga bermunculan.

Rumah Autis yang pada awalnya menangani delapan anak itu kini sudah memiliki enam cabang. Yakni, Rumah Autis Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara; Rumah Autis Gunung Putri, Bogor; Rumah Autis Tangerang; Rumah Autis Depok (sinergi PT Antam Tbk); Rumah Autis Pakuan, Bogor; dan Rumah Autis Karawang. Saat ini setidaknya Rumah Autis memiliki 215 anak asuh yang tersebar di seluruh cabang.

Karena metode pembelajaran yang berbeda, banyak kalangan menengah ke atas yang juga tertarik untuk bergabung di Rumah Autis. Khusus bagi kalangan mampu, Rumah Autis mengenakan biaya.

“Tapi, yang tidak mampu tetap tidak dipungut biaya apa pun. Mereka hanya memberikan kontribusi. Misalnya, ada yang ibunya membantu bersih-bersih di sini, ada juga yang mencarikan link donasi, ada juga yang masak. Kami menyebutnya sistem akad kontribusi,” urai Nelwan.

Sebenarnya, lanjut dia, banyak permintaan dari sejumlah daerah untuk pendirian Rumah Autis. Namun, pihaknya belum berani mewujudkan hal tersebut.

“Kami nggak mau kalau nantinya ini dikelola seadanya. Tapi, kalau ada yang memiliki visi dan misi sama seperti kami, ya pasti akan kami sambut dengan baik,” imbuh Nelwan.

Sumber: Jppn.com

Leave Your Comment