Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Mengapa Kita Harus Peduli Autisme?
Mengapa Kita Harus Peduli Autisme?

Mengapa Kita Harus Peduli Autisme?

  • July 24, 2019
  • 0 Likes
  • 40 Views
  • 0 Comments

Perlu dipahami bahwa autisme bukanlah penyakit tetapi penyimpangan dalam perkembangan perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

Autisme dapat dideteksi sejak bayi berumur 2 bulan. Menurut dunia kedokteran, bayi berumur dua bulan sudah memiliki pendengaran yang tajam, matanya sudah bisa mencari di mana ibunya. Namun, jika bayi ini mengalami autisme, dia akan cenderung cuek.

Hingga saat ini, penyebab autisme masih belum dapat diketahui secara medis. Namun, beberapa penelitian oleh beberapa negara besar mengatakan penyebab autisme adalah dari faktor genetik dan berbagai paparan negatif dari lingkungan.

Di Indonesia, belum ada angka pasti ada berapa jumlah penyandang autisme. Indikator peningkatan baru dapat diperoleh dari catatan praktek dokter –yang dari menangani 3-5 pasien baru per tahun, kini menangani 3 pasien baru setiap hari dan itu pun dibatasi– dan catatan penerimaan siswa di sekolah-sekolah.

Ada 3 contoh kecil individu autistik. Pertama, dia tidak tahan dengan label merk yang ada di baju bagian pundak. Dia akan merasa sangat gatal dan tidak nyaman dengan label tersebut. Biasanya, orang tua yang memiliki anak autistik akan memotong label tersebut sehingga anaknya merasa nyaman ketika memakai baju.

Kedua, anak autis cenderung tidak suka sinar yang terlalu terang. Individu autistik akan terganggu dengan sinar yang terlalu terang. Menurut mereka, sinar itu seperti ribuan pedang yang menusuk mata mereka. Biasanya mereka lebih senang memakai topi dan kacamata hitam untuk membantu menghindari melihat secara langsung sinar tersebut.

Ketiga adalah bunyi jarum jam. Individu autistik tidak akan bisa tidur ketika mendengar suara jarum jam di ruangan mereka. Menurut mereka, suara itu adalah suara bising yang memekakkan telinga mereka.

Pemerintah, dan masyarakat, harus memberi perhatian dan kepedulian lebih kepada individu autistik. Misalnya untuk usia bayi, departemen kesehatan harus dapat memfasilitasi dengan memberikan bantuan terapi kepada individu autistik, apalagi jika orang tuanya kurang mampu.

Kemudian, di usia sekolah, dinas pendidikan juga harus bisa memperhatikan mereka karena individu autistik memerlukan tenaga dan perhatian ekstra agar dapat berkembang. Termasuk memberikan jaminan keamanan dari praktik bullying di sekolah.

Di usia kerja, peran dinas tenaga kerja dan dinas sosial juga diperlukan untuk memfasilitasi individu autistik ini bekerja.

Setiap tanggal 2 April, kita memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia.

Leave Your Comment