Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Mengapa Anak Laki-laki 5 kali Lebih Rentan Terkena Autisme

Mengapa Anak Laki-laki 5 kali Lebih Rentan Terkena Autisme

  • August 24, 2019
  • 0 Likes
  • 113 Views
  • 0 Comments

Berdasarkan struktur otak laki-laki, seperti hasil penelitian yang dipublikasikan JAMA Psychiatry, anak laki-laki lima kali lebih rentan terkena autis.

Gangguan spektrum autisme (ASD) terjadi karena adanya masalah pada perkembangan saraf. Masalah ini biasanya ditandai dengan interaksi sosial dan komunikasi verbal maupun non-verbal yang terganggu. Dan, gangguan ini ternyata lebih mudah berkembang pada struktur otak bertipikal laki-laki.

Sebuah studi menunjukkan jika perempuan memiliki berbagai jenis gejala yang bisa membuat mereka tidak terdiagnosis autisme. Tetapi studi terbaru dari Goethe University di Jerman telah menemukan perkembangan otak juga mungkin memainkan peran dalam hal ini.

“Asumsinya adalah bahwa jika otak laki-laki lebih rentan terhadap ASD, maka mungkin perempuan yang terkena autisme memiliki fitur otak yang lebih menyerupai laki-laki,” kata salah seorang peneliti, Christine Ecker.

Untuk lebih jelasnya, otak laki-laki pada dasarnya tidak memiliki terlalu banyak perbedaan dari otak perempuan. Namun ada aspek neurologis tertentu yang lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Salah satu dari hal tersebut yakni korteks serebral yang bentuknya tipis.

Ketika para peneliti melakukan MRI pada masing-masing pasien, mereka menilai ketebalan korteks serebral  memiliki peran kunci dalam memori di  bagian otak. Bagian ini juga  berperan pada hal perhatian, persepsi dan kesadaran. Korteks yang biasanya sedikit lebih tipis pada laki-laki ditemukan  di semua orang dewasa yang terkena ASD.

Tetapi karena keterbatasan penelitian, para peneliti tidak dapat menegaskan jika korteks serebral tipis dapat membuat seseorang lebih mungkin memiliki ASD atau hanya gejala. “Kami tidak tahu pada titik ini,” kata Ecker.

Pada study lain

Menurut pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika Serikat (AS), risiko autisme pada anak laki-laki yaitu satu berbanding 52, sementara pada anak perempuan yaitu satu berbanding 252.

Sebuah studi yang dipublikasi dalam American Journal of Human Genetics mengungkap sebabnya. Antara lain, anak perempuan lebih mampu menahan mutasi gen sehingga tidak sampai menganggu perkembangan sarafnya.

Sebelumnya, para peneliti memperkirakan, mutasi pada kromosom X merupakan penyebab terjadinya risiko autisme. Namun menurut peneliti studi baru Evan Eichler, profesor ilmu genom di University of Washington School of Medicine, hal itu bukanlah penyebabnya.

“Lima persen gen yang bertanggung jawab pada perkembangan otak berada pada kromosom X, karena itu, mutasi pada kromoson tersebut tidak cukup untuk dapat membedakan risiko autisme berdasarkan gender,” ujar Eichler.

Untuk mengetahui penyebab sebenarnya, Eichler dan timnya pun melakukan analisis terhadap 16.000 orang dengan gangguan perkembangan saraf. Mereka juga menganalisis sampel tambahan dari kelompok terpisah yakni 800 keluarga yang terpengaruh oleh autisme.

Dari analisis tersebut, para peneliti menyadari bahwa mutasi genetik serius lebih banyak diturunkan dari DNA ibu, dibandingkan ayah. Mereka juga menemukan, anak perempuan lebih banyak memiliki mutasi gen yang berhubungan dengan gangguan perkembangan mental dibanding anak laki-laki.

“Namun kenapa frekuensi gangguan perkembangan saraf lebih sering pada anak laki-laki? Ini karena anak perempuan lebih mampu bertahan dengan mutasi tersebut sehingga tidak sampai memengaruhi perkembangan mentalnya,” jelas Eichler.

Perempuan, katanya, punya dua kromosom X yang memiliki 1.500 gen dan lima persen peran dalam perkembangan otak. Sehingga jika terjadi mutasi pada kromosom ini, maka perempuan memiliki kromosom X lainnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, 60 persen mutasi genetik yang parah datang dari ibu, dan 40 persen sisanya dari ayah. “Perempuan cenderung memiliki lebih banyak mutasi gen dan mewariskannya,” ujarnya.

Sumber: Kompas & Republika

Leave Your Comment