Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Jenis-jenis Autisme, Deteksi Dini dan Solusi

Jenis-jenis Autisme, Deteksi Dini dan Solusi

  • June 14, 2019
  • 0 Likes
  • 143 Views
  • 0 Comments

Anak autis memerlukan perhatian khusus dan perawatan yang sangat hati – hati, karena anak – anak ini memiliki kebutuhan yang khusus. Sejatinya autisme atau ASD (Autism Spectrum Disorder ) merupakan gangguan pada perkembangan saraf otak yang berpengaruh pada kemampuan anak  dalam hal perilaku juga untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara sosial. Sehingga anak  dengan autisme cenderung tertutup dan kurang suka bergaul dengan orang lain disekitarnya. 

Autisme sendiri tak hanya mencakup satu jenis saja karena kondisi tersebut cukup luas, dan menurut medis terdapat lebih dari satu jenis. Autisme bisa dikenali dengan mudah dari ciri-cirinya. Berikut beberapa jenis autis dengan ciri dan cara mengatasinya:

 1. Childhood Disintegrative Disorder

Childhood Disintegratiive Disorder, merupakan sebuah gangguan pada perkembangan anak yang bahkan sebelum usianya genap 3 tahun gejalanya sudah terlihat dengan jelas. Beberapa ciri – cirinya bisa terlihat dari gangguan pada perkembangannya, berikut diantaranya.

Gejala gangguan pada kemampuan komunikasi:

  • Kemampuan berbahasa dan bicaranya terlambat, bahkan ada juga yang sama sekali tidak menunjukan perkembangan.
  • Tidak menunjukan adanya keinginan untuk berkomunikasi baik melalui gerak tubuh maupun mimik muka.
  • Tidak berkeinginan untuk memulai sebuah interaksi dengan orang lain dan lebih suka atau sibuk dengan dunianya sendiri.
  • Bila sudah mampu berbahasa, tetapi yang diucapkan tidak memiliki makna yang jelas dan tidak lazim serta diulang-ulang terus menerus.
  • Tidak menyukai permainan yang imajinatif, sehingga permainan yang dilakukannya kurang bervariasi.

Gejala gangguan pada caranya berinteraksi secara sosial:

  • Tidak mampu melakukan kontak mata dengan baik, dan tidak menunjukkan ekspresi wajah, juga postur serta gerakan yang dilakukan sebagaimana berinteraksi secara normal.
  • Kurang suka bermain dan sulit untuk membaur dengan teman sebaya karena lebih suka sendiri, dan bila bersama dengan teman kurang bisa membina hubungan.
  • Tidak mampu berempati maupun membaca emosi orang lain.  

Gejala gangguan pada perilaku meliputi aktivitas:

  • Memiliki pola perilaku yang terbatas dan berulang, dengan kegiatan yang sama dari waktu ke waktu.
  • Memiliki keterikatan pada sebuah rutinitas tertentu yang tak bisa ditinggal dan harus dilakukan. Sebab bila ada yang terlewat maka bisa membuat anak tantrum.
  • Suka melakukan gerakan yang berulang yang biasanya tidak memiliki makna, seperti menggerakan jari – jari tangan atau mengepakan lengan seolah sebagai sayap.

Anak-anak dengan Childhood Disintegratiive Disorder ini seringkali memperlihatkan luapan emosi yang  cukup berlebihan seperti tantrum, ketakutan pada hal – hal tertentu dengan tidak wajar, juga tertawa bahkan menangis tanpa ada sebab yang jelas. Selain gangguan pada emosi, pada anak-anak ini sering pula terlihat adanya gangguan sensorik, misalnya keinginan menggigit – gigit suatu bendadan juga menciumnya, serta kurang suka melakukan kontak fisik misalnya dipeluk maupun dielus. Childhood Autism lebih cenderung sering ditemukan pada anak laki-laki ketimbang anak perempuan, dengan perbandingan 3 : 1.

2. PDD-NOS ( Pervasive Developmental Disorder, Not Otherwise Specified)

Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified atau sering disingkat dengan PDD-NOS, sejatinya adalah diagnosa yang ditujukan pada anak  yang secara diagnositik tidak memenuhi seluruh kriteria yang biasa ditemukan dalam autisme. Dalam anak dengan PDD-NOS gangguan yang jelas terlihat ada dalam segi komunikasi, caranya berinteraksi secara sosial, juga minat serta perhatiannya.

Gejala 

Setiap anak yang terdiagnosa PDD-NOS memiliki gangguan engan intensitas yang tidak sama dan cenderung berbeda. Ada yang mengalami gangguan dan  hambatan di dalam lingkungan rumah atau sekolah saja, yang lainnya memiliki kesulitan di seluruh aspek kehidupanya. Gejala yang sering terlihat pada anak – anak dengan PDD – NOS seringkali mirip dengan autisme berikut diantaranya:

  • Anak mengalami keterlambatan berbicara dan bahasa.
  • Kurang merespon ketika dipanggil namanya.
  • Belum atau kurang bisa menunjukan apa yang ia mau, pointless.
  • Belum bisa diajak berkomunikasi secara pasif, misalnya diminta mengambil benda atau sesuatu
  • Belum bisa mengucapkan kata – kata yang bermakna, atau hanya mengeluarkan suara – suara tanpa arti yang jelas, dan tidak ada fase bubling atau mengoceh
  • Suka melakukan kebiasaan yang berulang seperti sebuah rutinitas yan sulit ditinggalkan, semisal memasukan jari tangan ke mulut.
  • Tidak mudah merasa sakit, misalnya saat jatuh tidak menangis
  • Pada tahap perkembangannya dulu ada salah satu tahapan yang tidak dilalui, misalnya tidak melalui tahapan merangkak
  • Tidak bisa diam dan suka sekali bergerak seperrti tak punya rasa lelah,
  • Menangis atau marah ketika diayun.
  • Peka dan tidak menyukai bunyi – bunyian tertentu, seperti suara musik, hair dryer,
  • Mudah sekali terjatuh karen keseimbangan tubuhnya kurang bagus
  • Asyik dengan satu permainan saja dan diulang – ulang,
  • Suka menyakiti diri sendiri dan juga orang lain, misalnya menjambak, memukul atau menendang
  • Tidak ada komunikasi dua arah yang terjalin antara anak dan orang tua

Jika beberapa diantara ciri dan tanda diatas ada pada anak, maka segera bawa anak ke dokter spesialis anak segera untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat sedari dini. Penanganan anak dengan autistik bukan perkara yang singkat karena membutuhkan waktu yang lama setidaknya hingga bertahun – tahun.

3. Rett’s Syndrome (Sindroma Rett)

Rett’s Syndrome atau Sindrom Rett, merupakan gangguan autistik pada anak yang terjadi karena disebabkan oleh adanya kelainan genetik sehingga  berpengaruh pada perkembangan otak. Secara eksklusif, sindrom ini hanya terjadi khusus pada anak perempuan saja. Karena kelainan perkembangan tersebut,  hingga membuat anak dengan sindrom Rett memiliki gejala dan ciri yang hampir mirip dengan autisme.

Tak sedikit anak dengan sindroma Rett pada awal tumbuh kembangnya terjadi secara normal, tetapi kemudian perkembangannya mengalami hambatan dan bahkan mundur ketika usianya mencapai 18 bulan. Dan karenanya anak-anak yang memiliki sindroma Rett memiliki fungsi motorik yang tidak bekerja secara normal seperti ketika untuk berbicara, menggunakan tangannya, berjalan, bahkan untuk mengunyah makanan.

Gejala tahap pertama

Ditahap awal ini biasanya gejalanya seringkali terabaikan, yakni di usia 6 hingga 18 bulan pertama. Ciri – ciri yang terlihat dari bayi dengan sindroma Rett ialah kurangnya kontak mata dan bayi yang cenderung kehilangan minat terhadap permainan atau mainan yang ada disekitarnya. Bayi pun juga cenderung terlambat duduk atau pun merangkak.

Gejala Tahap kedua

Ditahap ini sindrom Rett dimulai antara usia 1 hingga 4 tahun. Dan di saat ini kemampuan motorik anak secara bertahap mulai menghilang seperti untuk berbicara maupun untuk menggerakan tangan, misalnya saja untuk melakukan gerakan meremas, bertepuk tangan bahkan mengetuk sangat sulit dilakukan. Bahkan, pada beberapa anak dengan sindroma Rett mengalami hiperventilasi, sering  berteriak dan menangis tiba – tiba tanpa sebab yang jelas.

Gejala Tahap ketiga

Di tahap ini merupakan puncak gejala yang dimulai di usia sekitar 2 hingga 10 tahun. Dan kondisi yang dialami oleh anak bisa saja berlangsung cukup lama bahkan hingga bertahun-tahun. Meskipun terkadang masalah yang berhubungan dengan mobilitas masih tetap ada dan berlanjut, gangguan perilaku sudah bisa diperbaiki. Anak – anak dengan sindroma Rett yang ada di tahap ini terkadang bahkan jarang menangis, kewaspadaannya pun meningkat, tidak gampang marah, dan memiliki perhatian yang baik serta keterampilan komunikasi nonverbalnyapun membaik.

Gejala Tahap keempat

Pada tahap ini terlihat dari gejala mobilitasnya yang mulai berkurang, misalnya disebabkan karena kelemahan otot dan scoliosis (masalah tulang belakang). Gejala lain yang juga cukup terlihat seperti kurangnya pemahaman, komunikasi serta keterampilan tangan. Dan ditahap ini gerakan tangan berulang yang sering dilakukan sedikit berkurang. Anak dengan sindroma Rett biasanya akan membutuhkan perawatan dan bantuan dari orang lain sepanjang hidup mereka.

4. Sindrom Asperger

Sindrom Asperger sejatinya merupakan salah satu dari autisme gangguan spektrum (ASD), namun lebih sering dianggap autisme “high functioning” atau autisme dengan kemampuan yang cukup multifungsi. Karenanya anak dengan sindrom ini terkadang tidak terdiagnosis hingga mereka mulai kesulitan saat berada di sekolah maupun lingkungan kerja.

Secara pasti penyebab sindrom Asperger pada anak belum teridentifikasi, namun menurut para ahli hal ini terjadi karena adanya kelainan pada otak sehingga memberikan pengaruh besar terhadap perkembangana anak. Dan ada kemungkinan bahwa kelainan ini timbul sejak janin masih dalam kandungan. Juga ada kondisi yang disebabkan oleh genetik, sehingga dalam sebuah keluarga yang salah satu anggotanya memiliki sindrome autisme bisa saja memiliki anak dengan gangguan yang serupa walau dalam spektrum yang berbeda.

Gejala sindrom asperger 

  • Suka menggunakan bahasa yang tak biasa atau formal, yang tidak sesuai dengan usia
  • Kurang memiliki empati
  • Lambat dalam perkembangan motorik
  • Sangat sensitif
  • Mudah mengalami kecemasan serta depresi
  • Bicara yang berulang-ulang
  • Memiliki kelebihan dalam satu bidang tertentu saja, misalnya seni

Cara Mengatasi Anak Autis

Gejala dan juga ciri – ciri pada anak dengan gangguan autistik seringkali berbeda dan terkadang malah ada gabungan  dari dua kondisi autistik yang tampak. Sehingga penanganannya harus sangat detail, teliti dan juga hati –  hati supaya tepat sasaran sebab gejala yang timbul cukup kompleks. Berikut beberapa cara untuk menangani anak dengan kondisi autisme secara umum, diantaranya.

  1. Perawatan medis

Perawatan medis dilakukan bukan dengan tujuan untuk menyembuhkan autisme, karena kondisi tersebut bukanlah penyakit. Sehingga perawatan medis dengan memberikan obat – obatan hanya bertujuan untuk bisa mengurangi gejala lain yang timbul seiring dengan penurunan fungsi tubuh. Seperti ketika terjadi kekakuan otot maupun kejang – kejang.

  1. Terapi fisik dan wicara

Terapi yang diberikan pada anak membantu anak agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dan membantunya mengatasi kekurangannya. Misalnya dengan terapi fisik, yang dilakukan seperti  membantu anak belajar berjalan, menjaga serta meningkatkan keseimbangan dan juga fleksibilitasnya. Sementara terapi lainnya misalnya terapi okupasi bisa meningkatkan fungsi dan pergerakan tangan. Terapi wicara untuk membantu dan meningkatkan kemampuan hidup anak dengan mengajarkan bagaimana caranya berkomunikasi baik secara nonverbal maupun secara langsung.

  1. Pemberian Gizi yang sesuai

Pemberian gizi yang tepat tentunya begitu penting dalam menunjang pertumbuhan anak secara normal serta demi meningkatkan kondisi mental juga sosialnya. Bahkan pada beberapa anak dengan autisme, makanan yang salah terkadang bisa meningkatkan gejalanya semakin bertambah buruk misalnya makanan yang tinggi kandungan glutennya. Sehingga diet makanan rendah gluten sangat perlu diterapkan. Tetapi terkadang anak – anak lainnya bahkan memerlukan asupan lemak dan makanan berkalori tinggi dalam jumlah yang lebih dibanding anak normal lainnya. Karena itu setiap anak memerlukan perawatan dan penanganan yang intensif karena tidak sama.

Itulah semua jenis jenis autis beserta dengan ciri serta cara mengatasinya. Orang tua harus peka sejak awal termasuk tanda autis sejak masih bayi. Kemudian saat masa perkembangan sehingga anak bisa mendapatkan tindakan perawatan yang tepat.

Sumber: Hamil.co.id

Leave Your Comment