Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. ISI Denpasar Diseminasikan Puluhan Karya Anak Autis

ISI Denpasar Diseminasikan Puluhan Karya Anak Autis

  • September 21, 2019
  • 0 Likes
  • 91 Views
  • 0 Comments

Memasuki sore di depan Gedung Kriya Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) Denpasar, lantunan musik piano merdu terdengar dari kejauhan. Lantunan musik itu mengiringi sebuah lagu berjudul “Kasih Ibu” yang dinyanyikan oleh seorang anak penderita spektrum autistik. Tak hanya si penyanyi, pemain pianonya ternyata menderita penyakit yang sama.

Pertunjukan itu selesai dengan tepukan tangan para penonton yang juga diisi gunting bunga sebagai pembukaan pameran lukisan. Berbagai lukisan yang dipamerkan juga berasal dari penderita spektrum autistik dari program kemitraan masyarakat (PKM) di Rumah Belajar Autis Sarwahita (RBAS) Denpasar. Totalnya ada sebanyak 55 karya yang terdiri dari 33 lukisan di atas baju kaos dan 20 lukisan kanvas.

Pameran bertajuk “Ekspresi Murni” tersebut dilaksanakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang terlaksana melalui kompetisi hibah pengabdian masyarakat oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Melalui pameran ini dapat diartikan bahwa seorang anak dengan spektrum autistik juga bisa menghadirkan sebuah karya ke tengah masyarakat.

Padahal, selama ini seorang anak yang mengalami spektrum autistik seringkali dirundung atau diisolasi. Hal itu disebabkan karena ketidaktahuan lingkungan dan masyarakat bagaimana upaya memperlakukan anak yang menderita autis.

Padahal, sama seperti anak pada umumnya, anak dengan spektrum autistik dinilai mempunyai peluang untuk tumbuh mandiri. “Ternyata dari hasil karya-karya yang dipamerkan saat ini, itu mereka memiliki kemampuan lebih untuk kita apresiasi terutama di bidang seni murni,” kata anggota bidang PKM tersebut, Ni Luh Desi In Diana Sari.

Sejak mendampingi anak-anak, Desi mengakui bahwa mereka sangat antusias dalam berkegiatan, terutama seni lukis. Desi mengatakan, program untuk mengajak anak-anak melukis ini sudah dilaksanakan mulai Mei hingga September 2019.

Proses kreatif yang dilalui pun sangat padat, yakni dimulai dengan mengklasifikasikan anak di RBAS sesuai dengan kemampuannya. “Jadi di RBAS itu kan tidak semua anak-anak memiliki kemampuan yang sama, jadi kita kelompokkan dahulu,” tuturnya saat didampingi Ketua Yayasan RBAS Inayah Wiyartathi.

Pengelompokkan anak-anak tersebut, kata dia, dibagi menjadi tiga, yakni berupa kelompok dasar, transisi dan intermediate. Pada kelompok dasar, anak-anak dengan spektrum autistik ini memiliki kemampuan yang masih dasar. Berbeda dengan kelompok transisi yang sudah bisa mengarah ke mandiri serta kelompok intermediate sudah mandiri sepenuhnya. Untuk kelompok mandiri ini, para pengajar sudah tinggal menginstruksikan dan anak-anak sudah bisa langsung melaksanakan.

Dalam proses belajarnya, anak-anak yang masih dalam kelompok dasar, mereka masih diberikan bentuk lukisan yang sudah jadi sehingga mereka tinggal mewarnainya. Hampir sama dengan kelompok dasar bagi yang transisi juga diberikan gambar, hanya saja dalam proses pewarnaan diarahkan oleh pembina. Sementara bagi kelompok intermediate diberikan keleluasaan untuk menyampaikan ekspresinya.

Dipengaruhi Mood

Desi mengatakan, cukup banyak tantangan selama proses kreatif yang dilalui bersama anak-anak dengan spektrum autistik ini. Salah satu tantangan tersebut yakni harus jeli dalam mengambil mood anak-anak sehingga mereka mau melukis. “Jadi kalau mereka senang, itu mereka akan sangat mengingat sekali. Jadi kadang kalau kita lewat (dipanggil) Ibu Desi, Ibu Desi, Ibu Desi di mana,” kisahnya.

Jika mood ini sudah terbentuk dalam diri anak-anak, mereka bisa menghasilkan lukisan dalam waktu yang cukup cepat. Selama dua jam pelatihan melukis, anak-anak dengan penderita autis ini bisa menghasilkan hingga lima buah karya. Di samping ada yang menghasilkan karya yang banyak, ada pula yang hanya menghasilkan satu karya saja dalam rentang waktu dua jam tersebut.

Desi menyebutkan, beberapa anak memang memiliki jiwa “saklek” yang ketika berhasil menuntaskan satu karya mereka merasa sudah puas dengan hal tersebut. Proses yang dilalui Desi dan timnya ini tak hanya sebatas mengajar seni lukis murni dan pameran ini saja.

Di RBAS sendiri saat ini terdapat 35 anak didik dengan rentang usia 7 hingga 20 tahun yang memang diberikan program seni lukis yang sebagian besar dari Kota Denpasar. Ketua Pelaksana PKM I Wayan ‘Kun’ Adnyana menilai, anak dengan spektrum autistik adalah anak-anak yang cerdas dan bisa dikelola atau dimanajemen serta bisa tumbuh mandiri dengan bakat yang memadai untuk menopang hidupnya di masa depan.

Baginya, dunia seni termasuk pendidikan seni, mestinya memasuki dunia tersebut dan menjadi bagian dari empati untuk tumbuh kembang anak-anak yang menderita autis. “Kami selama empat bulan melakukan program kemitraan itu yang didanai oleh Direktorat Jenderal Riset dan Penguatan Pendidikan dari (Kementerian) Riset dan Pendidikan Tinggi. Jadi ini menjadi sebuah pintu awal menjadi bagian dari kita untuk tumbuh kembang anak-anak autistik,” kata Kun.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ini berharap, dengan adanya kegiatan tersebut nantinya bisa menginspirasi banyak pihak untuk melakukan hal yang sama. “Bisa menjadi ambil bagian lah untuk rasa simpati,” tuturnya saat ditemui usai pembukaan pameran. Bagi Kun, keberadaan seni tidak boleh diisi sebagai ruang yang diskriminatif.

Oleh karena itu, siapapun pelaku seni itu harus diapresiasi secara patut dan benar dan diberi ruang yang juga layak. “Oleh karena itu kami di Dinas Kebudayaan Provinsi Bali kan memang mendiskusikan lebih jauh untuk mewadahi yang seperti ini,” tuturnya. Melalui pameran ini, tambah Kun, beberapa baju kaos yang diisi lukisan akan dijual dan dananya akan diberikan kepada pihak sekolah.

Leave Your Comment