Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Inspirasi dari Pengalaman Farhan Merawat Anaknya yang Autis

Inspirasi dari Pengalaman Farhan Merawat Anaknya yang Autis

  • August 15, 2019
  • 0 Likes
  • 57 Views
  • 0 Comments

Kisah Presenter kondang Farhan merawat anak autis patut dijadikan inspirasi oleh para orangtua. dan Farhan pun tak sungkan menceritakan pengalaman merawat anaknya yang menyandang autisme.

Farhan mengaku memang melihat ada yang berbeda dengan perkembangan putera sulungnya sejak bayi. Ia pun segera membaca panduan tumbuh kembang anak yang diperoleh dari posyandu dan menemukan adanya proses perkembangan yang kurang sesuai. Tanpa harus berlama-lama, ia segera mengkonsultasikan puteranya ke psikolog.

“Waktu dia berusia 18 bulan sudah kita deteksi dan kita bawa ke psikolog. Cuma yang lucu, yang pertama kali diterapi itu bukan anaknya tetapi orangtuanya. Kita sebagai orangtua mau nggak mau harus terapi dulu selama 6 bulan, sambil anaknya juga diterapi sampai sekarang,” kenang Farhan.

Anak pertama Farhan yang bernama Rizky didagnosis autis ketika berusia 18 bulan pada tahun 1999. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa autisme yang dialami disertai hiperaktifitas. Mengetahui sang buah hati membutuhkan penanganan khusus, Farhan pun menabung selama 6 tahun untuk dapat membangun rumah yang memiliki fasilitas terapi untuk si buah hati.

Ketika itu, hal pertama yang menyesakkan dada adalah bagaimana ia dan istri sebagai orangtua bisa menerima keadaan bahwa si buah hati memiliki kebutuhan yang sangat berbeda. Akhirnya, ia harus mengubah persepsinya mengenai pengasuhan anak.

Jika kebanyakan orang berpikir anak boleh bermain sepuasnya sampai usia 4 tahun kemudian masuk Playgroup dan SD sampai sudah bisa cukup mandiri, maka pola ini tidak akan ditemui pada penyandang autis.

Farhan juga tidak memungkiri bahwa hasil diagnosis membuatnya membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anak.

“Berdiagnosis itu berbahaya karena bisa membuat orangtua melakukan labelling pada anaknya sendiri. Hadapi semua anak dengan mindset yang sama, tetapi treatmentnya harus berbeda. Perlakuan terhadap anak A, anak B dan anak C memang berbeda, tidak mungkin sama,” jelas Farhan.

Pengobatan autis memang tidak bisa dilakukan secara sepotong-potong, melainkan secara holistik, begitu juga yang diterima Rizky. Mulai dari behavior intervention, kognitif, juga sensori integrasi hingga okupasi terapi sudah diberikan.

Gejala autisnya memang saat ini sudah berkurang, namun sampai saat ini si anak masih belum sadar bahaya seperti masih sering menyeberang jalan sembarangan.

Menurut Farhan, ada 5 hal penting yang perlu diajarkan kepada anak autis agar dapat mandiri, yaitu kebersihan diri, mengenali makanan sehat, mempelajari norma dan nilai-nilai di masyarakat, bersosialisasi dan terakhir adalah pendidikan kognitif.

“Berpikirlah bahwa anak ini suatu hari harus hidup mandiri, tidak mungkin selamanya ada orang yang mendampingi. Jadi, bekalilah dia dengan kemampuan untuk bertahan hidup,” kata Farhan.

Khusus untuk masalah pendidikan kognitif, penyandang autis memang mengalami sedikit kesulitan. Farhan mengakui, putera sulungnya yang kini menginjak kelas 5 SD ini kurang dapat memahami konsep abstrak, misalnya adalah mata pelajaran agama dan IPS.

Farhan menuturkan, putera sulungnya lebih mudah mempelajari bahasa Inggris karena lebih terstruktur, sama seperti ketika mempelajari ilmu pengetahuan alam dan matematika.

“Aku melihatnya perlu pendekatan yang berbeda. Kita kasih hafalan dulu, baru diberi pengertian. Berbeda dengan anak yang tidak punya masalah tumbuh kembang kan biasanya diberi pengertian dulu baru bisa hapalan. Anak autis itu pola pikir sistemiknya lebih jalan dibanding pola pikir absratktif maupun empatik,” kata Farhan.

Sebelum menutup perbincangan, Farhan memberikan tips kepada orangtua yang memiliki anak autis.

  1. Orangtua harus segera menyadari adanya kelainan tumbuh kembang pada anak
  2. Cari ahli yang bisa diajak konsultasi yang enak, karena ada beberapa ahli yang judgemental dan membikin sakit hati
  3. Meskipun demikian, jangan kapok. Cari ahli lain yang lebih nyaman diajak konsultasi sebab saat ini profesional di bidang autisme sudah cukup banyak
  4. Pilih metode yang paling pas dan jangan gonta-ganti. Tidak ada metode jangka pendek, semuanya jangka panjang. Yang paling penting adalah konsistensi.

Sumber: DetikHealth

Leave Your Comment