Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Ini Dia Ciri-ciri Wajah dan Mata Anak Penyandang Autisme

Ini Dia Ciri-ciri Wajah dan Mata Anak Penyandang Autisme

  • August 17, 2019
  • 0 Likes
  • 284 Views
  • 0 Comments

Meski agak susah dikenali secara fisik, sebuah penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari University of Missouri berhasil memetakan beberapa perbedaan bentuk wajah pada penyandang autis, terutama pada lebar bibir dan jarak antara kedua mata.

Penelitian tersebut menyimpulkan, perkembangan wajah dan otak terjadi bersamaan sejak di dalam kandungan. Keduanya juga saling mempengaruhi, namun tidak diketahui pasti bagaimana mekanisme sebenarnya.

Dengan memetakan perbedaan bentuk wajah pada penyandang autis, maka diharapkan orangtua bisa mendeteksi lebih dini jika ada anak-anak yang menunjukkan gejala autisme. Deteksi dini akan mempermudah pendampingan, sehingga pertumbuhan mental dan kecerdasannya bisa disesuaikan.

Berikut ini beberapa perbedaan pada wajah, yang membedakan anak-anak penyandang autis:

  1. Memiliki jarak yang lebih lebar antara kedua mata
  2. Bagian tengah wajah lebih sempit, termasuk daerah pipi dan hidung
  3. Memiliki bibir dan philtrum (daerah antara hidung dengan bibir) yang lebih lebar.

Ciri-ciri ini diungkap oleh para ilmuwan setelah melakukan pengamatan terhadap 62 anak berusia 12 tahun yang didiagnosis mengidap autisme. Sebagai pembandingnya, para ilmuwan juga mengamati 41 anak yang tidak memiliki riwayat atau gejala klinis autisme.

Dalam pengamatan, para ilmuwan memotret wajah para partisipan dengan kamera khusus yang bisa menghasilkan gambar 3-dimensi. Berdasarkan gambar-gambar tersebut, perbedaan-perbedaan ciri fisik akhirnya ditemukan di 17 titik antara lain di ujung mata, philtrum dan bibir.

“Dari temuan ini kita bisa kembangkan untuk mengetahui pada titik mana gangguan autisme mulai terbentuk. Ini akan menjembatani spekulasi antara faktor genetik dengan lingkungan,” ungkap Prof Kristina Aldridge yang memimpin penelitian itu.

Temuan ini sekaligus menguatkan dugaan bahwa gangguan koordinasi otak pemicu autisme sudah terjadi sejak dalam kandungan. Namun hingga kini, para ilmuwan belum menyimpulkan apakah autisme hanya dipengaruhi faktor genetik atau dipengaruhi juga oleh lingkungan.

Sumber: DetikHealth

Leave Your Comment