Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Ibu, Kenali Gejala Autisme Pada Anak Sejak Dini

Ibu, Kenali Gejala Autisme Pada Anak Sejak Dini

  • August 12, 2019
  • 0 Likes
  • 30 Views
  • 0 Comments

Para orang tua diminta mulai mengenali gejala autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) pada anak sejak dini. Ini penting di­lakukan untuk meminimal­isasi masalah yang timbul dan menyertai anak di masa men­datang.

“Tujuannya bukan mem­buat normal, bukan membuat sembuh, tetapi bagaimana membuat anak (penyandang autisme) bisa hidup dengan kondisinya,” kata pakar kese­hatan anak dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Mei Neni Sitaresmi, di Gedung Pascasar­jana UGM, Yogyakarta, Kamis (8/8).

Menurut Mei, sebagian be­sar anak penyandang autisme pada dasarnya sudah menun­jukkan gejala sejak dini sehing­ga bisa didiagnosis sebelum mereka berusia dua tahun.

Kendati demikian, ia me­nyayangkan sebagian besar anak autis didiagnosis setelah berusia empat tahun. Pada­hal, seharusnya semakin dini anak terdiagnosis ASD, sema­kin dini anak akan mendapat­kan penanganan yang tepat sehingga memiliki peluang kehidupan yang lebih baik di masa depan.

“Masih cukup banyak orang tua yang tidak sadar bahwa anaknya autis. Makanya, kita bersama teman-teman semua akan terus mensosialisasikan ini karena kejadiannya jauh le­bih banyak daripada penderita leukimia atau penyakit lain­nya,” kata dia.

ASD lebih banyak menye­rang anak laki-laki, dengan prevalensi 1:37, sedangkan pada anak perempuan 1: 151. Merujuk pada data prevalensi tersebut, Indonesia yang me­miliki jumlah penduduk se­besar 237,5 juta dengan laju pertumbuhan penduduk 1,14 persen diperkirakan memiliki angka penderita autisme seba­nyak empat juta orang.

“Dulu diagnosis anak au­tisme hanya dianggap belum bisa bicara atau terkadang di­anggap terkena penyakit jiwa,” kata dia.

Penderita ASD, kata dia, kerap disertai dengan kondisi gangguan medis dan perilaku lainnya, yaitu disabilitas intek­tual (45–60 persen), kejang (11–39 persen), gangguan pencer­naan (50 persen), gangguan tidur, gangguan sensori (hiper­sensori maupun hiposensori), gangguan pemusatan per­hatian dan gangguan perilaku lainnya.

Oleh sebab itu, dengan mengetahui sejak dini maka orang-orang yang berada di se­kitar anak penyandang autisme bisa memberikan perhatian dan dukungan secara khusus terhadap perilaku mereka.

Direktur The Autism Initia­tive at Mercyhurst University Prof Bradley, McGarry menga­takan pada prinsipnya autisme bukan tidak bisa disembuhkan tetapi memang tidak perlu di­sembuhkan. Baginya, autisme merupakan bagian kekhususan dari anak itu sendiri.

“Maka orang tuanyalah yang sesungguhnya perlu diterapi supaya menganggap anak ini punya sesuatu yang lebih dan perlu diutamakan,” kata Garry.

 

Sumber: Koran Jakarta

Leave Your Comment