Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Gayatri Sukses Didik Anaknya yang Autis

Gayatri Sukses Didik Anaknya yang Autis

  • July 12, 2019
  • 0 Likes
  • 79 Views
  • 0 Comments

Perlahan namun pasti, kesadaran masyarakat akan penanganan autisme di Indonesia mulai mengalami peningkatan. Salah satu komunitas yang tak lelah berkampanye adalah MPATI (Masyarakat Peduli Autis Indonesia). Sang pendiri, Gayatri Pamoedji, sudah berjuang selama belasan tahun demi anaknya yang menyandang autis.

Anak sulung Gayatri bernama Audwin Trito dilahirkan pada 6 November 1990. Semenjak dilahirkan, pertumbuhannya terlihat normal seperti kebanyakan bayi pada umumnya. Hingga usianya menginjak 18 bulan, Gayatri menyadari ada yang ganjil.

“Pada suatu titik saya lihat, ini anak nggak ada kontak mata. Dipanggil nggak mau nengok, hiperaktifnya nggak ada duanya. Dari situ kita nyari tahu gimana caranya, terus aja,” kenang Gayatri menceritakan pengalamannya.

Minimnya pengetahuan akan autisme ketika itu membuat ibu dengan 2 anak ini kebingungan. Dokter selalu bilang Audwin nanti lama-lama akan bisa ngomong sendiri, padahal umurnya sudah 3 tahun. Ternyata dokter, bahkan dokter terbaik di Jakarta sekalipun, masih kurang informasi bahwa autisme harus ditangani sedini mungkin.

Seiring berjalannya waktu, Audwin masih belum bisa berbicara sama sekali. Kalaupun bisa berbicara, ucapannya tidak jelas dan hanya satu kata. Rasa khawatir mendesak Gayatri bertekad memeriksakan Audwin ke Eropa. Sayangnya dokter di sana mengatakan usianya masih terlalu kecil untuk bisa didiagnosa.

Kecewa, Audwin pun kembali di bawa pulang. Hingga akhirnya Gayatri mendapat informasi bahwa di Australia ada tim yang bisa membantu. Maka Audwin diboyong ke sana dan didiagnosis dengan autisme. Hasil pemeriksaan menunjukkan intelegensinya di atas rata-rata, bahkan kemampuan visualnya masuk kategori genius. Hanya saja yang bermasalah adalah komunikasinya.

“Dengan berjalannya waktu, kita pindah, tinggalin semuanya, Audwin dapat pendidikan terapi okupasi, wicara dan perilaku. Sampai pada satu titik di mana orang-orang nggak percaya kalau dia autis karena sedemikian baiknya cara dia membawa diri,” ungkap Gayatri.

Kini kegemaran Audwin adalah membaca buku, terutama buku tentang misteri, panglima perang dan pemimpin negara yang hebat. Hobinya adalah memasak sehingga ia dimasukkan ke sekolah khusus chef hingga lulus. Audwin sekarang sudah bekerja sebagai chef dan hidup mandiri.

Yang tak kalah hebat, ada satu titik di mana Audwin hidup bersama anak kos-kosan lain. Ia bahkan pernah tanding kungfu ke China sendirian dan bisa menasihati orang tuanya jika ada yang kurang pas. Pada bulan November 2012 kemarin, Audwin berhasil menunaikan ibadah haji sendirian tanpa direncanakan.

Disebut tanpa direncakan karena Audwin semestinya berangkat bersama pamannya. Sayangnya pada detik-detik terakhir, visa sang paman tak bisa keluar. Maka ia akhirnya harus berangkat haji sendiri selama 24 hari. Sebelum berangkat, Gayatri sempat menanyakan kembali niat puteranya beribadah ke tanah suci.

“Waktu mau berangkat saya bilang, ‘Mas, om ga bisa berangkat. Kamu kan nggak bisa bahasa Indonesia’. Terus dia bilang, ‘Ma, di masa lalu banyak sekali mukjizat yang terjadi pada saya. Siapa tahu saya naik haji ini juga terjadi mukjizat’,” tutur Gayatri menirukan ucapan putranya.

Ucapan ini sedikit banyak melegakan hati Gayatri dan memang ada benarnya. Sang ustaz yang mendamping Audwin selama di Tanah Suci mengaku bahwa pengalaman mendampingnya adalah yang paling berkesan. Alasannya karena Audwin terlihat sangat sederhana. Makanan yang dirasa tidak enak tetap dihabiskan. Kalau merasa tempat tidur kurang nyaman juga tidak pernah mengeluh.

Keberhasilan mendidik Audwin ini menginspirasi Gayatri membentuk Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI) pada 24 Juni 2004 . Di satu sisi, ia melihat masih banyak orang-orang di Indonesia yang belum memahami betul apa itu autisme dan bagaimana penanganannya.

“Sebetulnya yang bikin stres orang tua bukan anaknya sendiri, tapi reaksi orang-orang di sekeliling kita. Jadi kalau kita bisa edukasi orang-orang di sekeliling kita, stresnya orang tua berkurang. Terus terang yang sulit itu adalah mencari tahu anak ini sebenarnya kenapa?” terangnya.

Lewat MPATI, Gayatri banyak melakukan kunjungan ke berbagai tempat di Indonesia. Dan ternyata perkiraannya benar, banyak orang tua anak penyandang autis yang tidak tahu apapun mengenai kondisi anaknya. Untuk mengedukasi masyarakat, MPATI membagikan video, buku dan poster. Sambutan yang diterima juga amat baik.

“Senangnya minta ampun. Kadang kala mereka nggak menuntut banyak, cuman didengerin aja,” tuturnya.

Gayatri memahami bahwa mengurus anak dengan autisme membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Capek yang dirasakan berimbas pada fisik dan mental karena anak autis perlu diterapi 30 – 40 jam seminggu. Ketika mengurus Audwin, kebetulan Gayatri kembali sekolah. Jadi ia harus membagi waktu antara sekolah, terapi dan mengurus rumah tangga.

Untunglah kerja keras Gayatri ini berbuah manis. Setelah Audwin bisa mandiri, kini dia bisa banyak mencurahkan waktunya membesarkan MPATI untuk mengkampanyekan penanganan anak autis.

“Sukanya di sini bisa ketemu banyak orang. Sukanya waktu lihat Audwin bisa mengikat tali sepatu sendiri umur 9 tahun,” pungkas Gayatri.

Sumber artikel dan foto: DetikHealth

  • Share:

Leave Your Comment