Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Belajar dari Pengalaman dr. Diana Merawat Anak Autis

Belajar dari Pengalaman dr. Diana Merawat Anak Autis

  • August 30, 2019
  • 0 Likes
  • 53 Views
  • 0 Comments

Namanya dr Diana Dewi. Beliau melahirkan anak pertamanya dengan lancar. Hingga usia setahun si kecil juga masih normal, tak ada yang mengkhawatirkan. Namun di usia 1,5 tahun anaknya mulai kehilangan kontak mata.

“Umur 6 bulan sampai 1 tahun itu masih ikuti semua. Kontak mata masih ada. Dipanggil nengok. Masih main dengan keponakan yang lain. Tapi mulai 1,5 tahun mulai hilang kontak matanya dan suka asyik main sendiri,” tutur dr Diana dalam satu perbincangan.

Kata dr Diana, anak pertamanya gemar masuk ke kolong meja dan bermain sendiri di sana. Selain itu si kecil juga selalu rewel jika diajak ke tempat baru atau ke suatu tempat melewati rute baru.

Ketika berusia 2 tahun pun si kecil belum bisa bicara. Hingga akhirnya dr Diana mencoba menerapkan metode smart ABA (applied behavior analysis) dan smart BIT (biomedical intervention therapy).

“BIT itu merupakan suplemen, obat, diet. Sedangkan ABA lebih ke perilakunya. Itu dilakukan berbarengan,” lanjut dr Diana.

Ketika menerapkan BIT, dr Diana mengupayakan anaknya benar-benar menghindari makanan yang mengandung kasein, gluten, gula, phenol untuk membersihkan pencernaannya. Ini penting agar pencernaan anak terbebas dari jamur, bakteri, virus dan parasit yang membuat perilaku semakin tidak terkontrol.

“Diet seperti ini jadinya bukan cuma ke anak saja, tapi juga ke orang tuanya, biar nggak bocor,” sambung alumnus Fakultas Kedokteran Trisakti ini.

Menurutnya dengan membatasi asupan, hal ini tidak akan membuat anak jadi kurus, tapi justru membuat anak menjadi lebih sehat. Tak cuma itu, dr Diana juga melindungi anaknya sebisa mungkin dari paparan bahan kimia.

“Kapur barus, detergen, sudah saya singkirkan. Bahkan karpet juga gorden yang fire retardant,” tambah dr Diana.

Seturut pengalaman dr Diana, hendaknya orang tua anak dengan autisme punya pencatatan harian. Ini penting untuk mengetahui kegiatan apa yang berhasil dan bermanfaat bagi anak. Ini sekaligus juga sebagai sarana mengevaluasi penyembuhan anak.

“Waktu itu pernah saya pindah rumah, ada bekas cat dan sebagainya itu membuat anak saya jadi mundur lagi. Setahun terakhir ini anak saya baru bisa bicara. Sekarang umurnya sudah 5 tahun kurang, sudah sekolah TK,” papar dr Diana.

“Berarti pengobatan untuk anak saya berhasil, asal kita sebagai orang tua juga konsisten tidak membuatnya bocor. Benar, autisme bisa sembuh, bukan ilusi atau mitos. Karena anak saya mengalami perbaikan. Dia bisa sekolah di sekolah umum,” sambungnya.

Anak dengan autisme, imbuh dr Diana, akan benar-benar dinyatakan sembuh jika bisa sekolah di sekolah umum, hidup mandiri di masyarakat, tidak tampak gejala sisa, dan bahkan tidak ada yang menyangka berhadapan dengan mantan autistik.

Sumber: detikhealth.com

Leave Your Comment