Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Beginilah Pola Edukasi Anak Autis Selama Masa Pandemi COVID-19

Beginilah Pola Edukasi Anak Autis Selama Masa Pandemi COVID-19

  • June 13, 2020
  • 0 Likes
  • 31 Views
  • 0 Comments

Pusat Studi Difabilitas (PSD) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar diskusi bulanan virtual dengan tema Pendidikan Anak Autis di Masa Covid-19 pada Jumat (5/6) melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting dan juga live streaming YouTube pada akun PSD LPPM UNS.

Diskusi menghadirkan empat narasumber yakni Joko Yuwono, Erma Kumala Sari, Erny Kadarwati, dan Minsih. Sebanyak 110 peserta hadir dalam diskusi ini yang terdiri dari kalangan dosen, anggota peer group PSD LPPM UNS, guru, orang tua, mahasiswa, dan umum.

Joko Yuwono mengulas tantangan pembelajaran anak autis pada masa pandemi Covid-19. Dosen Pendidikan Luar Biasa (PLB) UNS ini, menjelaskan adanya pandemi Covid-19 ini sangat berdampak pada anak autis yang memiliki masalah perkembangan.

“Adanya Covid-19 sangat dirasakan dampaknya pada anak autis yang memiliki masalah perkembangan, yaitu bagaimana memberikan prioritas kesehatan bagi anak autis dan layanan pendidikan yang berkualitas. Mereka membutuhkan pendampingan,” terang Joko seperti tertulis dalam siaran pers, Sabtu (6/6).

Anak autis memiliki risiko penularan yang tinggi apabila tidak ada pendampingan terkait masalah kesehatan. Terkait masalah perkembangan, guru dan sekolah perlu tahu bagaimana cara mentransformasikan pembelajaran menjadi media daring. Ketika di rumah, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi anak autis. Ada tiga komponen yakni guru, orangtua mau pun keluarga, dan anak autis itu sendiri. Tantangannya, bagaimana guru dapat mendampingi anak belajar selama masa pandemi ini karena anak akan lebih mudah mengalami stres.

Karenanya, Joko menyarankan agar sekolah dapat bekerja sama dengan orangtua. “Orang tua dan anak membutuhkan waktu untuk beradaptasi atas situasi Covid-19. Pada masa pandemi ini, biarkanlah keluarga saling beradaptasi dan mengenali kebutuhan anak disabilitas, termasuk anak autis,” saran Joko.

Selanjutnya, Erma Kumala Sari mengupas materi tinjauan psikologi anak autis dan keluarga di masa pandemi Covid-19. Di saat seperti ini, lingkungan menjadi daya dukung yang sangat penting bagi anak autis. Adanya Covid-19, biasanya seseorang akan lebih overthinking terhadap diri sendiri dan kemungkinan mengalami gejala psikosomatis. Sehingga, perlu untuk mengelola pikiran untuk tetap tenang dan menerima keadaan.

“Kita harus dapat mengelola pikiran diri kita sendiri untuk tetap tenang dan dapat menerima keadaan ini. Kita perlu mencari informasi namun harus dapat membatasi informasi yang akan kita dapatkan. Kita harus mampu berpikir positif dan memiliki keyakinan. Kita harus mampu mencari strategi baru untuk bertahan melalui kondisi saat ini,” terang Erma.

Strategi alternatif dibutuhkan agar dapat terhindar dari kebosanan dan stres. Di masa pandemi ini, orang tua diminta mampu memberikan energi positif. Apabila orang tua sedang dalam kondisi buruk, maka anak autis dapat merasakannya dan berdampak pada perkembangan anak tersebut.

Berhubungan dengan kondisi psikis anak autis selama masa pandemi ini, orang tua atau keluarga perlu mengawasi pola makan dan kebersihan agar tidak berdampak keburukan. Anak autis juga perlu diberikan pemahaman mengenai kondisi saat ini dengan tetap menyesuaikan karakteristik anak. Adanya perubahan rutinitas akan berdampak pada anak autis. Sehingga orang tua dapat membuat jadwal aktivitas yang baru namun tetap mengadakan waktu luang bagi anak autis.

Pembicara ketiga Erny Kadarwati yang merupakan guru Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Surakarta membahas praktik pembelajaran anak autis di SLBN Surakarta pada masa pandemi. Secara keseluruhan, terdapat 40 anak autis di SLBN Surakarta dari jenjang SDLB hingga SMALB.

Pembelajaran yang dilakukan secara daring selama masa pandemi ini, perlu memperhatikan beberapa aspek bagi anak autis. Di antaranya, guru perlu membuat struktur maupun rutinitas baru untuk membantu orangtua murid, memberikan tata laksana pemberian tugas, memantau pelaksanaan program, mengevaluasi setiap hasil tugas, dan membuka konsultasi seputar anak.

Ada beberapa kelebihan pembelajaran daring yang dirasakan oleh Erny. “Orang tua menjadi proaktif, lebih bersemangat menangani anak, dan hubungan orang tua dengan anak menjadi lebih dekat. Pendidikan anak autis terus diberikan dengan perencanaan dan pelaksanaan yang matang demi tercapainya tujuan pembelajaran,” papar Erny.

Selanjutnya, Minsih selaku orang tua anak autis berbagi pengalaman mengasuh dan mendidik anak autis di masa pandemi Covid-19. Pada saat mengasuh dan mendidik anak di rumah, Minsih menyarankan untuk berkomunikasi dengan anak autis menggunakan bahasa verbal dan visual secara rutin dan berulang. Kebiasaan baru juga harus dibentuk dengan membuat jadwal baru anak. Perkembangan mental dan kesehatan fisik anak juga harus selalu dipantau.

Minsih juga menyarankan agar orang tua berkolaborasi dan berkomunikasi secara rutin dengan sekolah. Memanfaatkan sumber daya yang ada di rumah juga menjadi kunci keberhasilan mendidik anak autis selama di rumah. Terakhir, mellibatkan anak dalam aktivitas harian seperti memasak, mencuci piring, dan merapikan tempat tidur.

Leave Your Comment