Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Arti Kesuksesan Bagi Orang Tua dengan Anak Autis

Arti Kesuksesan Bagi Orang Tua dengan Anak Autis

  • May 20, 2020
  • 0 Likes
  • 32 Views
  • 0 Comments

Setiap orangtua pasti memiliki visi agar buah hatinya dapat sukses serta beprestasi di kehidupannya. Hal yang sama juga tentu saja diinginkan dalam benak para orangtua dengan anak dengan autisme atau Spektrum Autisme (SA). Namun bagi mereka, kesuksesan dan prestasi yang dimaksud tidak terukur layaknya pola pikir masyarakat pada umumnya. Di mana berbagai hal kecil yang ditunjukkan buah hati mereka, acap kali terasa sebagai bentuk prestasi.

Hal ini diungkapkan Maria Theodora Isabela dengan putranya bernama Jordie yang menyandang autisme. Menurut Maria, prestasi dan kesuksesan tak terukur dengan nilai semata walau Jordie sendiri sebenarnya cukup paham dengan berbagai hal di bidang akademik. Namun dengan kondisi di Indonesia saat ini yang sangat terbatas lapangan kerja untuk penyandang autisme, baginya, nilai ini jadi tidak ada maknanya.

Namun dari sisi lainnya, bagi Maria, kesuksesan sangat terasa ketika melihat putranya yang akan berusia 25 tahun pada Juni nanti itu saat ia mampu melakukan hal-hal secara mandiri. Karena, proses mengajarkan berbagai hal untuk anak yang menyandang autisme perlu kesabaran serta detail yang lengkap.

“Ternyata saya harus buat semuanya lebih sederhana, walaupun nantinya akan mencapai sesuatu yang besar menurut saya. Pertama, karena saya akhirnya baru tahu ternyata saat anak saya non-verbal, untuk mengenalkan sebuah kata sederhana seperti ayam saja, kita harus tahu ayam itu apa saja. Jangan sampai kita salah input untuk mendeskripsikan ayam. Karena nanti anak akan hanya tahunya ‘ayam’ saja. Sementara di dunia ada berbagai jenisnya, seperti ayam kate, ayam jago, broiler, kampung dan lain-lain. Sedangkan untuk masakan, ada ayam goreng, bakar, rebus, kukus, dan lainnya,” ujar penggerak autism parenting itu.

Lambat laun dengan kesabaran serta dedikasi untuk mengajarkan putranya, hasilnya pun mulai terlihat dan bagi Maria momen seperti ini merupakan langkah sukses dari Jordie, apalagi ketika dirinya tengah memasak. Pasalnya, putranya itu menjadi tertarik untuk memasak dan di satu sisi ini juga menjadi momen yang tepat untuk melatih motoriknya dengan kegiatan seperti memotong bawang.

“Ternyata ilmu nyata, seperti memasak, itu lebih dipahami dengan baik (dibandingkan ilmu akademik), sekarang anak saya bahkan sudah tahu bahan-bahan untuk memasak menu tertentu,” ungkapnya.

Melihat situasi seperti itulah serta kondisi di Indonesia untuk anak penyandang autisme yang sulit untuk bisa berkarya serta menunjukkan prestasinya, ide membentuk wadah bernama Wahiha Inakucha pun muncul. Kata-kata yang sebenarnya dicetuskan Jordie ini dijadikan Maria sebagai singkatan yang berarti “Wadah Himpunan Harapan Indonesiaku Bercahaya”.

Jika kelak direalisasikan sepenuhnya, Maria menginginkan anak-anak seperti Jordie, khususnya penyandang autisme berusia 18 hingga 21 tahun dapat memiliki “rumah” yang akan memberikan beragam pelatihan serta pemberdayaan agar mereka mandiri dan kelak sukses menjalani hidupnya. Ia menambahkan, mengapa target usia tersebut yang dipilih, ini dikarenakan menurut Maria, usia tersebut krusial agar mereka tetap dapat terus bergerak maju jika suatu hari orangtuanya sudah tiada.

Leave Your Comment