Emergency Help! +62 811 866869
Advanced
Search
  1. Home
  2. Anak Penderita Autisme tidak Bisa Disembuhkan, Tetapi…

Anak Penderita Autisme tidak Bisa Disembuhkan, Tetapi…

  • April 28, 2020
  • 0 Likes
  • 31 Views
  • 0 Comments

Autisme merupakan sebuah kelainan yang menyerang sistem syaraf penderitanya. Kelainan ini mempengaruhi perkembangan diri seseorang. Seorang penderita autis biasanya akan kesulitan melakukan interaksi, kesulitan bicara, gangguan perilaku minat dan adanya aktifitas yang terbatas dan berulang.

Selain itu, penderita autis umumnya sering mengalami gangguan keterbatasan kemampuan intelektual sebesar 45-60 persen, mengalami kejang, gangguan pencernaan, gangguan tidur dan gangguan sensorik serta gangguan pemusatan perhatian dan perilaku.

Autisme pada dasarnya tidak bisa disembuhkan. Yang bisa dilakukan oleh orangtua anak penyandang autisme adalah memberi terapi. Penderita autisme hanya dapat melakukan terapi untuk mengurangi efek dari autis yang dideritanya.

Pakar autism dari Lembaga Autism Initiative at Mercychurst (AIM), Universitas Mercychurst, Amerika Serikat, Prof. Brad McGarry, menjelaskan bahwa yang perlu dilakukan adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap penderita autis.

“Para penderita autis biasanya memiliki kemampuan khusus. Hanya cara mendidiknya yang berbeda dari orang-orang kebanyakan, sehingga perlu diterapi dan diberi penanganan khusus,” katanya.

Autisme di Indonesia

Di Indonesia sendiri, terhitung 4 juta orang menderita autisme. Menurut data Center for Disease control and prevention tahun 2014, 1 dari 59 orang menderita autisme; jumlah ini meningkat secara pesat dari 1 banding 150 orang di tahun 2000.

Menurut Pakar Kesehatan Anak dari Fakultas Kedokteran, Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat (FKKMK), UGM, Mei Neni Sitaresmi, para orangtua lah yang harus secara aktif memperhatikan perkembangan anaknya. Menurutnya, di Indonesia para orangtua umumnya terlambat menangani anaknya yang terkena autis.

“Untuk mengetahui anak terkena autis dapat diperiksakan ke psikolog, atau bisa diperhatikan dari kegiatan sehari hari. Anak penderita autis biasanya cenderung diam dan main sendiri,” katanya.

Apabila sejak awal anak sudah diperiksa dan didiagnosis terkena autis maka bisa dilakukan tata laksana dan prosedur penanganan kesehatan yang lebih baik dengan melibatkan dokter, psikolog, pendidik, keluarga serta lingkungan.

Mei juga menyatakan bahwa autis sendiri disebabkan oleh faktor yang beragam, salah satunya adalah faktor genetik.

“Yang jelas ada faktor genetik memberikan kontribusi penyebab dari autis, misalnya hamil di usia tua, waktu hamil terinfeksi rubella, saat hamil usia masih muda, terkena toksin dan sebagainya,” kata Mei.

Leave Your Comment